Juru Bicara PDIP, Ansy Lema, menilai agenda kunjungan Jokowi ke sejumlah daerah sebaiknya tidak menimbulkan persepsi adanya pusat pengaruh lain di luar pemerintahan yang sedang berjalan. Menurutnya, seluruh elemen bangsa perlu memberikan ruang kepada Presiden Prabowo untuk menjalankan mandat rakyat tanpa bayang-bayang figur politik lain yang dapat memunculkan tafsir berbeda di tengah masyarakat.
Pernyataan tersebut semakin menarik perhatian publik karena Jokowi masih memiliki pengaruh politik yang besar meski tidak lagi menjabat sebagai presiden. Setiap langkah dan aktivitas mantan kepala negara itu kerap menjadi sorotan serta memunculkan beragam spekulasi politik.
PDIP menegaskan bahwa Indonesia saat ini berada di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Karena itu, partai tersebut mengingatkan agar tidak muncul kesan adanya "matahari lain" yang dapat mengaburkan fokus pemerintahan. Istilah itu merujuk pada adanya figur yang dianggap memiliki pengaruh politik setara atau bahkan melebihi pemimpin yang sedang berkuasa.
Di sisi lain, rencana kunjungan Joko Widodo ke berbagai daerah dinilai sejumlah pihak sebagai upaya menjaga kedekatan dengan masyarakat. Namun, bagi PDIP, langkah tersebut tetap berpotensi memunculkan pesan politik yang beragam, terutama di tengah dinamika politik nasional yang masih hangat pasca pergantian pemerintahan.
Polemik ini kembali menunjukkan bahwa meski telah lengser dari kursi presiden, nama Jokowi masih menjadi magnet dalam percaturan politik nasional. Pertanyaannya kini, apakah kunjungan tersebut murni untuk menyapa masyarakat, atau justru akan dibaca sebagai manuver politik menjelang kontestasi politik berikutnya? Perdebatan itu tampaknya masih akan terus bergulir dalam waktu dekat.
