Notification

×

Iklan

Iklan

Zulfadli, Jangan Persempit Ruang Berpikir dengan Merusak Hubungan Baik Gerindra dan Partai Aceh

22 Februari 2025 | Februari 22, 2025 WIB Last Updated 2025-02-23T02:26:19Z
Dok. Pribadi 

Kasus Aceh | Banda Aceh --- Ketua GEMA MA Kota Banda Aceh, Agustian Putra, SH, menegaskan bahwa setiap kemarahan pasti memiliki alasan yang mendasar. Pernyataan ini merespons sikap Ketua DPRA, Zulfadli, yang dinilai telah mengganggu hubungan harmonis antara Fraksi Partai Gerindra dan Partai Aceh.  


Perselisihan bermula ketika Zulfadli melarang Fraksi Partai Gerindra memberikan saran dan tanggapan dalam rapat DPRA. Menurut Agustian, sikap tersebut dipicu oleh pandangan Zulfadli yang menyalahkan Ketua Gerindra Aceh dan Bendahara Gerindra Aceh tanpa alasan yang jelas. Zulfadli juga menyebutkan bahwa Gerindra hanya memiliki lima kursi di DPRA, yang dinilai Agustian sebagai upaya merendahkan martabat Ketua Gerindra Aceh, Bendahara, serta anggota Fraksi Partai Gerindra di DPRA.  


Agustian menyatakan bahwa tindakan Zulfadli tidak hanya melecehkan Partai Gerindra, tetapi juga mencederai nama besar Ketua Umum Gerindra, Jenderal TNI (Purn) H. Prabowo Subianto. "Saya mengecam keras sikap ini. Hati-hati dan jangan bermain-main dengan Partai Gerindra. Anda telah melecehkan partai kami," tegas Agustian pada Minggu (23/2).  


Menurut Agustian, semua fraksi di DPRA seharusnya diperlakukan setara oleh pimpinan DPRA. Ia merujuk pada Peraturan Pemerintah Republik Indonesia tentang Pedoman Penyusunan Peraturan DPRD mengenai Tata Tertib DPRD Pasal 1 Ayat 6 yang menyatakan bahwa setiap anggota DPRD wajib menjaga martabat, kehormatan, citra, dan kredibilitas lembaga tersebut. Oleh karena itu, pimpinan DPRA harus membantu anggotanya dalam melaksanakan tugas secara adil dan mencerminkan konsep *good governance* dalam kepemimpinannya.  


"Apakah Ketua DPRA saat ini sudah mencerminkan citra dan menjaga martabat serta kehormatan terhadap sesama anggota DPRA?" tanya Agustian. Ia mengingatkan bahwa Zulfadli, sebagai kader Partai Aceh, sebaiknya menjaga keseimbangan politik di awal masa kepemimpinan Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh yang kini dinakhodai oleh Muallem dan Fadhlullah.  


Lebih lanjut, Agustian mempertanyakan sikap Zulfadli yang dinilai arogan. "Mengapa Ketua DPRA harus menunjukkan sikap premanisme? Apakah tidak memikirkan dampak buruk terhadap kemajuan dan pembangunan Aceh ke depan?" ujarnya.  


Agustian menegaskan bahwa ia tidak berniat melawan Ketua DPRA, melainkan hanya meminta Zulfadli bertanggung jawab dan mengklarifikasi pernyataannya yang dinilai mencemarkan nama baik Ketua Gerindra Aceh, H. Fadhlullah, SE, yang kini menjabat sebagai Wakil Gubernur Aceh.  


"Jika Zulfadli merasa ada kekeliruan dalam pernyataannya di ruang paripurna, sebaiknya segera mengakui kesalahan tersebut, bukan justru mempertontonkan kekuasaan yang arogan," tambah Agustian.  


Ia berharap peristiwa ini menjadi pelajaran bagi semua pihak, terutama bagi Zulfadli selaku Ketua DPRA, agar lebih bijak dalam bersikap dan menghormati etika kepemimpinan. "Kami hanya menginginkan pemahaman dan komunikasi yang baik, bukan sikap arogan seperti ini," tutup Agustian. []

×
Berita Terbaru Update